Kamis, 21 Mei 2015

Kapasitas Staf Pengajar Studi Politik Australia Di Indonesia Dinilai Masih Belum Terpenuhi

ImageTerlepas dari pasang surut hubungan antara negara Indonesia dan Australia yang mana akhir-akhir ini kembali mengemuka, tidak dapat dipungkiri keduanya merupakan negara yang memiliki kedekatan dan telah lama terjalin. Bahkan kedua negara memiliki hubungan bilateral yang sangat kuat. Bagi Indonesia, Australia merupakan partner strategis di bidang keamanan, ekonomi, investasi, serta budaya dan pendidikan.
Dalam ranah dunia pendidikan, terdapat tren yang menunjukkan bahwa banyak mahasiswa Indonesia tertarik untuk mempelajari Politik dan Pemerintahan Australia, serta Politik Luar Negeri Australia. Yang mana sampai saat ini, telah diajarkan lebih dari 50 Program Studi Hubungan Internasional diseluruh Indonesia. Namun setelah dikaji lebih jauh, partisipasi dengan penuh antusias ini kenyataannya tidak didukung oleh kapasitas staf pengajar yang tersedia.
Berawal dari hal tersebut, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Kedutaan Besar Australia di Jakarta dan the School of Social and Political Sciences, University of Melbourne menyelenggarakan the Convention on Australian Studies 2015, 20-21 Mei 2015, di Gedung Lengkung Sekolah Pasca Sarjana UGM\.
Beberapa pembicara dihadirkan di antaranya dari School of Social & Political Sciences, University of Melbourne, Prof. John F. Murphy, korespondensi Indonesia dari Fairfax Media, Michael Bachelard, dan dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada. Drs. Dafri Agussalim, MA.
Disampaikan Dafri Agussalim, seminar internasional mengkaji permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hubungan Australia dan Indonesia serta mengungkap solusi-solusi yang ada. Sementara melalui pelaksanaan workshop, diharapkan dapat menyatukan sebuah standar pembelajaran mengenai Australia.
Ditambahkan Dafri Agussalim, sering kali tensi atau ketegangan-ketegangan kecil antara Indonesia dan Australia banyak disebabkan karena ketidak pahaman atau juga karena ekspektasi yang berbeda antara Indonesia dan Australia. Hal ini yang sering terjadi di level masyarakanya. Oleh karenanya meurut Dafri Agussalim, kewajiban di dunia akademik adalah bagaimana memberikan pemahaman. “Di Indonesia mengajarkan tentang politik Australia relatif baru, sementara di Australia sendiri studi tentang politik Indonesia telah berkembang pesat, bahkan bahasa Indonesia telah diajarkan,” ungkapnya.
Sementara dikatakan Wakil Rektor Bidang Akademik UII, Ilya Fajar Maharika, MA., pada dasarnya sebagai dua Negara tetangga, banyak hubungan yang terjalin antara people to people yang tidak dipengaruhi oleh arus “atas”. Dikatakan, Program Studi Hubungan Internasional UII yang keberadaannya masih baru, berusaha untuk melihat bahwa relasi antara Negara Australia dan Indonesia merupakan bagian dari nilai-nilai yang sangat perlu untuk dibangun.
“Dasarnya tentu nilai-nilai universal. Interaksi antar tetangga menjadi suatu hal yang sangat penting. Saling memahami culture yang berbeda. Tetapi pada aspek-aspek tertentu tetap universal,” ungkapnya.
Sementara pembicara dari School of Social & Political Sciences, University of Melbourne, Prof. John F. Murphy dalam kesempatannya mengatakan, pada dasarnya Indonesia dan Australia adalah dua negara yang dekat. Namun keduanya pastinya tidak selalu mempunyai pendapat yang sama. Namun yang dilakukan seperti melalui kegiatan ini, adalah berusaha untuk memadukan pendapat dan saling memahami.
Senada, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M. mengatakan, diselenggarakannya kegiatan dapat menjembatani hubungan baik antara kedua negara. Yang perlu dicatat menurutnya adalah hubungan antara negara itu berbeda dengan hubungan antara bangsa. “Yang sering kurang dipahami oleh masyarakat adalah statement pemerintah suatu negara dianggap sebagai statement dari suatu bangsa secara keseluruhan,” ungkapnya.
Image 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar